Mereka adalah alumni dari beberapa sekolah menengah di Jakarta yang lulus pada era 1980-an. Malam itu, mereka tampil sebagai pembuka untuk musikal Bukan Cinta Galih/Ratna, atau kisah cinta Galih dan Ratna. Namun kehadiran mereka terasa lebih besar daripada sekadar pembukaan. Ia membentuk nada untuk apa yang akan menjadi malam itu: sebuah reuni yang dibungkus dalam teater.
Musikal ini diangkat dari romansa legendaris Gita Cinta dari SMA (Lagu Cinta SMA), yang pada mulanya adalah sebuah novel populer karya Eddy D. Iskandar sebelum menjadi film hits tahun 1979 yang disutradarai oleh Arizal. Film tersebut dibintangi Rano Karno, yang kini menjabat wakil gubernur Jakarta, sebagai Galih, berpasangan dengan Yessy Gusman sebagai Ratna. Bagi banyak orang Indonesia yang tumbuh di era itu, kisah itu menjadi definisi cinta muda, lembut dan terkendali, tumbuh di bawah pengawasan orang tua.
Lagu-lagu klasik yang ditulis oleh Guruh Soekarnoputra untuk drama romantis tahun 1979 ini kembali muncul selama pertunjukan, termasuk “Galih dan Ratna” dan “Puspa Indah” (Bunga Indah), bagian soundtrack asli dari sekuel Puspa Indah Taman Hati (Sebuah bunga indah di taman hati). Dipopulerkan oleh Chrisye, lagu-lagu tersebut tetap tertanam kuat dalam memori pop negara.
“[Para anggota paduan suara] semuanya profesional. Ini adalah reuni, jadi kami sangat senang tampil untuk khalayak,” ujar Happy Pretty, 62, setelah penampilan. Mantan alumni SMA Negeri 6 Jakarta, Happy meraih ketenaran pada 1980-an lewat lagu “Rindu Ketemu Rindu” (Saat dua kerinduan bertemu). Di atas panggung, suaranya membawa pengalaman dan keakraban.
Sementara penampilan pembuka adalah milik para alumni senior, musikal itu sendiri menyatukan berbagai generasi. Diproduksi oleh kolektif seni Guruh, Kinarya GSP, dan kelompok alumni SMA 6 Jakarta, Sthana Pentas 6, produksi ini menampilkan pemeran lintas generasi yang dipandu oleh sutradara dan penulis berusia 18 tahun, Mikail Edwin Rizki.