Namun berapa banyak orang yang pernah mendengar tentang Ali dari wilayah Borneo di Sarawak, yang kini menjadi bagian dari negara bagian Malaysia modern, yang bekerja sebagai asisten Wallace selama penelitiannya di Asia Tenggara antara tahun 1855 dan 1862?
Kasus Ali hanyalah salah satu contoh dari banyaknya kolonialisme akademik yang dilakukan terutama oleh peneliti Barat, yang mengabaikan karya dan peran kontributor lokal di wilayah tempat mereka meneliti, wilayah-wilayah yang umumnya masuk dalam apa yang sekarang disebut Global South.
Namun dunia akademik sedang melihat upaya yang semakin meningkat untuk mengakui dan bahkan melibatkan kolaborator lokal lebih banyak dalam proses produksi pengetahuan.
Kontribusi orang-orang lokal seperti Ali baru dikenal belakangan ini, beberapa dekade setelah karya para ilmuwan Barat yang mereka bantu telah mendapat sorotan.
Dalam artikel 2015 “‘I am Ali Wallace’: The Malay Assistant of Alfred Russel Wallace”, sejarawan John van Wyhe dan antropolog Gerrell Miles Drawhorn memperkirakan bahwa pria Sarawak itu mungkin telah mengumpulkan 5.150 burung dari 125.660 spesimen sejarah alam yang termasuk dalam koleksi Wallace yang mencakup serangga, burung, reptil, mamalia, dan cangkang moluska.
Selain mengumpulkan spesimen burung, van Wyhe dan Drawhorn menulis bahwa Ali memberikan kontribusi besar terhadap pemahaman Wallace tentang Kepulauan Melayu, yang mendorong naturalis Inggris itu untuk menemukan burung surga sayap standar (Semioptera wallacii).