Mengalami budaya lokal seharusnya menjadi prioritas utama bagi semua wisatawan yang bepergian ke Bali. Baik saat mengunjungi kuil maupun mencoba nasi goreng, sangat penting untuk menjelajahi sebanyak mungkin apa yang ditawarkan pulau luar biasa ini.

Desa Penglipuran di Bali adalah salah satu destinasi pariwisata terbaik di dunia. Desa tradisional ini, yang terletak di Kabupaten Bangli, telah memenangkan Penghargaan Desa Wisata Terbaik dari Organisasi Pariwisata Dunia PBB lebih dari satu kali. Pada musim perayaan ini, Desa Penglipuran telah menyiapkan segala sesuatunya untuk merayakan Natal, Tahun Baru, dan budaya Bali bersama.
Bahkan memasuki tahun 2026, para wisatawan dapat dipastikan bahwa Desa Penglipuran akan terus menjaga keaslian dan menawarkan pengalaman budaya yang mendalam bagi wisatawan yang ingin mempelajari lebih lanjut tentang warisan budaya pulau ini.
Desa Penglipuran dihormati karena program pariwisatanya yang berbudaya, dan tawaran terbaru ini diperkirakan akan populer. Kepala Pengelolaan Pariwisata di Desa Penglipuran, Wayan Sumiarsa, telah mengungkapkan lebih banyak rincian tentang program tersebut.
Ia menjelaskan, “Wisatawan ingin menjadi Bali dalam satu hari, yaitu mengenakan pakaian adat Bali sedang diminati. Kami akan menggabungkan ini. Ketika mereka mengenakan pakaian adat Bali, mereka juga dapat langsung melihat atraksi budaya yang kami miliki di Penglipuran.”
Desa yang merupakan salah satu komunitas pejalan kaki terakhir di Bali ini telah menerima pujian sepanjang 2025 atas komitmennya dalam mempromosikan budaya Bali kepada wisatawan secara menarik.
Kembali pada bulan Oktober, Desa Penglipuran dikunjungi oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Budaya Indonesia, Bambang Wibwarta, yang memuji seluruh susunan komunitas tersebut. Ia mengimbau desa-desa wisata lainnya di Bali, dan Indonesia secara lebih luas, untuk belajar dari apa yang telah diciptakan Penglipuran.
Ia berbagi, “Kesuksesan ini bisa memotivasi wilayah lain untuk melanjutkan upaya mereka dalam mempertahankan dan mengembangkan budaya lokal.” Program pariwisata di desa ini tidak hanya menyoroti budaya Bali tetapi juga nuansanya pada tingkat hiperlokal.
Misalnya, Desa Penglipuran tetap dengan tegas mematuhi hukum adat awig-awig, yang terintegrasi dengan filsafat Bali Tri Hita Karana, yang fokus pada menciptakan keharmonisan antara manusia, bumi yang hidup, dan alam gaib. Desa Penglipuran juga melarang poligami untuk mempromosikan martabat perempuan.

Desa ini membentang seluas 112 hektar, termasuk hutan bambu suci, yang dapat dikunjungi wisatawan sebagai bagian dari tur komunitas mereka. Kabupaten Bangli, di mana Desa Penglipuran berada, merupakan rumah bagi beberapa kayu bambu terbaik di provinsi itu.
Selama kunjungan, wisatawan juga bisa mempelajari upaya pelestarian hutan yang sedang berlangsung, sistem panen berkelanjutan, dan lebih banyak lagi tentang arsitektur bambu, yang semakin popular di seluruh Bali.

Meskipun Natal telah berlalu, perayaan Tahun Baru akan diadakan di Desa Penglipuran dan tidak boleh dilewatkan.
Dari 28 Desember hingga 1 Januari, Desa Penglipuran akan menyuguhkan pertunjukan Tetantrian Macan Gading, yang menceritakan kisah Barong dan juga akan dipersembahkan oleh Organisasi Pemuda Penglipuran, menggabungkan musik dan seni teater untuk menceritakan kisah tentang keberanian dan kebersamaan.

Sumiarsa berbicara kepada wartawan selama persiapan liburan dan menjelaskan, “Menuju Natal dan Tahun Baru, kami juga akan menghias desa dengan dekorasi bertema yang menggunakan bambu dan bahan alami lainnya, sejalan dengan karakter Penglipuran sebagai desa wisata berbasis budaya dan lingkungan.”
“Penggunaan bambu menggantikan banyak dekorasi plastik sekali pakai, sehingga mengurangi limbah dan memperkuat pesan pariwisata regeneratif, sebuah perayaan meriah yang menjaga jejak ekologis yang rendah.”