Dulu dan Kini: Terungkap Setelah Dua Dekade

14 Februari 2026

Hampir dua dekade kemudian, Vivi meninjau kembali momen itu dengan menampilkan karya-karya dari 11 seniman yang dulu pernah memenuhi ruang seni miliknya. Seiring berjalannya waktu, masing-masing telah mengembangkan karakter artistik yang berbeda dan memperoleh tempat di dalam lanskap seni Indonesia. Beberapa telah menerima penghargaan, yang lain telah dipamerkan di luar negeri, tetapi semuanya terus berkarya secara mantap di tengah lingkungan budaya dan teknologi yang terus berubah.

Pameran kelompok Then and Now di Baik Art Gallery di Jakarta Selatan menawarkan peluang langka untuk melacak bagaimana visi para seniman ini, dan pilihan material mereka, berevolusi sejalan dengan semangat zamannya. Seniman-seniman yang dulu berusia akhir dua puluhan kini telah memasuki usia empat puluhan, membawa bersama mereka bertahun-tahun pengalaman, eksperimen, dan refleksi.

Setelah hampir dua dekade, Vivi telah menyatukan kembali sebelas seniman tersebut. Bagi mereka yang telah mengikuti praktik-praktis mereka selama bertahun-tahun, pameran ini menampilkan spektrum kontinuitas dan perubahan. Beberapa tetap berakar kuat pada pendekatan yang pertama kali membawa perhatian publik, sementara yang lain secara bertahap memperkenalkan metode, material, dan kerangka konseptual baru.

Angkie Purbandono, misalnya, pada awalnya menarik perhatian publik melalui karya cetak yang dibuat menggunakan scanner foto datar (flatbed) yang dilengkapi dengan charge coupled device (CCD), di mana ia menata objek-objek secara langsung. Sementara ia tetap menggunakan teknik ini, pendekatan konseptualnya telah bergeser. Karya-karya sebelumnya terinspirasi dari sekitar lingkungan sehari-hari—kadang-kadang menempatkan ikan mentah langsung di atas scanner. Dalam pameran ini, Angkie justru menunjukkan ketertarikan pada Scrabble: ia memulai dengan membentuk kata-kata, lalu mencari objek-objek yang secara visual merepresentasikan ide-ide di baliknya, membalikkan prosesnya yang dulu.

Agan Harahap, yang dulu dikenal karena karya fotografi yang memanipulasi realitas dengan fantasi, seperti pertemuan-imajiner antara Soekarno, presiden pertama Indonesia, dan Marilyn Monroe, kini telah merangkul kecerdasan buatan sebagai bagian dari proses kreatifnya. Seniman-seniman lain, termasuk Ronald Apriyan, Iqi Qoror, Arkiv Vilmansa, dan Badruzzaman, mempertahankan penggunaan warna-warna cerah dan kontras yang menjadi ciri khas mereka. Hendra “Hehe” Harsono, sementara itu, menyimpang dari palet kesehariannya dengan bereksperimen pada karya-karya monokrom, sebuah eksplorasi yang ia gambarkan sebagai upaya untuk menguji apakah perubahan semacam itu mendapat respons positif dari penonton.

Rizky Pratama

Rizky Pratama

Saya Rizky Pratama, penulis dan jurnalis yang mencintai dunia wisata dan budaya Indonesia. Melalui MADURACORNER.com, saya berbagi cerita, destinasi, dan inspirasi perjalanan dari seluruh Nusantara. Bagi saya, setiap perjalanan adalah kisah yang layak untuk dibagikan.

Tinggalkan komentar