Di dalam, sekelompok jurnalis sudah menunggu. Salah satu penyelenggara melirik ke pintu masuk, lalu mengumumkan, “Di situlah dia. Penulis kita, Eka Kurniawan.”
Sore itu pada tanggal 10 Maret, penerbit Gramedia Pustaka Utama mengadakan pertemuan buka puasa yang intim di Tjikini Lima, mempertemukan sang penulis dengan segelintir jurnalis. Setelah sesi tersebut, Eka merenungkan masa kecilnya, karier sastra, dan proyek-proyek yang akan datang.
Imaginasi yang mulai berakar
Eka menulis novel-novel yang ceria namun menakutkan dan cerita pendek, sering menggali sejarah sosial dan politik Indonesia. Ia menyampaikannya melalui suara-suara yang tak terduga, mulai dari hantu dalam Cantik Itu Luka (Beauty is a Wound), yang dirilis pada 2002, hingga seekor monyet dalam O, yang diterbitkan pada 2016.
“Ide-ide ini datang dari mana saja,” katanya. “Dari buku, cerita dari teman-teman, catatan sejarah, bahkan cerita rakyat.”
Lahir di sebuah desa terpencil di antara pegunungan Tasikmalaya, Jawa Barat, ia tumbuh besar dengan mendengarkan lakon radio yang memupuk imajinasinya dengan kisah-kisah dari Mahabharata dan cerita rakyat setempat.