Mungkin ini hanyalah jenis tanah, tetapi bagi seniman keramik Fransiskus Widayanto, setiap gumpalan tanah sangat berharga.
Widayanto berusia empat tahun ketika ia mulai bermain dengan tanah.
“Tanah liat adalah sumber segala sesuatu: Dinding-dindingmu, yang terbuat dari bata, terbuat dari tanah liat; atap dan lantaimu semuanya terbuat dari tanah liat,” katanya
Seiring waktu, minatnya membentuk gumpalan tanah menjadi sebuah bisnis.
Dalam pameran terbarunya Bunda Maria… Doakanlah Kami (Ibu Maria, Doakan Kami), yang diadakan di Jakarta pada awal Mei, seniman keramik itu menjelajahi keibuan melalui interpretasinya tentang Perawan Maria.
“Tema saya adalah Bunda Maria yang terberkati, dengan fokus pada beragam emosi kebahagiaan maupun kesedihan.”
Widayanto bepergian ke seluruh dunia untuk mengamati bagaimana ibu Yesus Kristus digambarkan, dalam berbagai bentuk dan dengan ekspresi yang berbeda.