“Sudah pukul 10 malam, tetapi masih cukup ramai,” kata Mardhatillah, yang setiap hari bepergian dengan kereta dari rumah kos-kosan miliknya, yang secara lokal dikenal sebagai kos-kosan, di Tebet, Jakarta Selatan.
“Ketika pertama kali pindah ke Jakarta dari kota asalnya, Makassar, di Sulawesi Selatan, pria berusia 32 tahun itu terkesan dengan transportasi publik kota ini, sesuatu yang dia katakan tidak ada di kampung halamannya. Kesan tersebut memudar seiring waktu. Setelah tujuh tahun tinggal di ibukota, dia merasa bepergian dengan jalur komuter semakin tidak nyaman, terutama saat jam sibuk, ketika selang kedatangan kereta bisa mencapai sepuluh menit.”
“Tarifnya rendah, tetapi kami tidak benar-benar memperoleh manfaat darinya karena kami harus membayar dengan cara lain, seperti mengorbankan kenyamanan kami,” katanya.
“Jutaan orang seperti Mardhatillah pindah ke Jakarta untuk mencari peluang yang lebih baik. Seperti banyak orang lainnya, dia telah belajar berkompromi untuk bertahan hidup di Big Durian. Kota ini merupakan bagian dari Greater Jakarta, yang oleh Divisi Populasi Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa telah diidentifikasi sebagai aglomerasi urban terpadat di dunia.”
Laporan PBB menunjukkan populasi wilayah Jakarta Raya, yang mencakup Jakarta, serta Bogor, Depok dan Bekasi, semuanya berada di Jawa Barat, dan Tangerang, Banten, telah mencapai hampir 42 juta orang, melebihi Tokyo.