Sylviana Hamdani
Kontributor/Jakarta
Selama lama dianggap sebagai “gender yang lebih lemah,” perempuan telah berulang kali menegaskan tempat mereka sejajar dengan laki-laki. Dunia seni Indonesia tidak terkecuali.
Sampai awal 2000-an, dokumentasi tentang seniman perempuan Indonesia tetap langka. Nama-nama mereka muncul dalam beberapa katalog pameran dan ulasan, tetapi jarang menjadi bagian dari narasi yang lebih luas.
Tiga penulis seni dan peneliti, Carla Bianpoen, Farah Wardani dan Wulan Dirgantoro, lalu memutuskan untuk mempelajari seniman perempuan Indonesia secara lebih serius. Upaya mereka disambut skeptisisme. Seorang pemilik galeri terkemuka memberi tahu bahwa tidak ada seniman perempuan Indonesia, dan bahwa pencarian mereka akan sia-sia.
Dan nyatanya, mereka menemukan 34 seniman perempuan Indonesia dari berbagai generasi, yang profilnya kemudian dikompilasi dalam buku terobosan Indonesian Women Artists: The Curtain Opens (2007).
Pada tahun yang sama, bekerja sama dengan Yayasan Cemara Enam, Galeri Nasional Indonesia menyelenggarakan sebuah pameran dengan judul yang sama, menarik perhatian publik yang lebih luas terhadap karya-karya mereka.