Difilmkan di Indonesia Arena di Jakarta Pusat pada bulan Agustus tahun lalu, Mens Rea mulai streaming di Netflix pada akhir Desember, menandai pemberhentian terakhir tur Pandji di 10 kota. Kedatangan pertunjukan ini di platform besar menandakan bagaimana humor politik, yang dulu dibatasi pada panggung kecil dan penonton niche, telah bergerak ke arus utama.
Pandji membuka pertunjukan di Jakarta dengan menyapa penonton sebagai “atasan Presiden Republik Indonesia,” membentuk nuansa untuk pertunjukan yang menggunakan humor untuk menyampaikan kritik politik. Kalimat itu menimbulkan tawa tidak hanya karena keberaniannya tetapi juga karena daya tarik akal sehat, mencerminkan frustrasi yang dialami banyak orang Indonesia. Pertunjukan spesial tersebut menduduki peringkat teratas acara TV Netflix di Indonesia pada pertengahan Januari dan dengan cepat menjadi bahan perbincangan di media sosial.
Pandji telah mengatakan Mens Rea dibuat sebagai respons terhadap kondisi sosiopolitik negara saat ini, dengan tujuan membuat isu-isu politik lebih mudah diakses oleh publik yang lebih luas.
“Politik itu lucu. Kadang-kadang saya tidak mengerti mengapa orang muda tidak mau terlibat dalam politik, meskipun hal itu secara langsung memengaruhi kehidupan kita,” kata Pandji pada 17 April tahun lalu, sebagaimana dikutip oleh Tempo.co. Ia menambahkan bahwa pemirsa akan pergi dengan pemahaman yang lebih baik tentang politik. Dalam arti ini, humor menjadi pintu masuk, menurunkan hambatan untuk terlibat dalam iklim politik yang banyak orang anggap melelahkan atau menjauhkan.
Pandji tidak sendirian. Komedian lain seperti Bintang Emon dan Arie Kriting juga telah menggunakan humor untuk mempertanyakan kekuasaan, kebijakan publik, dan ketidaksetaraan, sering kali mengambil dari pengalaman sehari-hari yang dikenal oleh penonton mereka.
Gaya observasional Bintang Emon sering menyoroti kontradiksi antara pernyataan resmi dan realitas yang dialami, terutama terkait birokrasi dan penegakan hukum. Sementara itu, Arie Kriting menggunakan penceritaan dan humor yang merendahkan diri sendiri berakar pada latar belakangnya sebagai orang Timur Indonesia, membawa isu identitas dan ketidaksetaraan regional ke dalam fokus. Pendekatan mereka berbeda, tetapi keduanya mengandalkan humor yang terasa membumi dan dikenali.