Ballroom Hotel Mulia Senayan di pusat Jakarta itu tiba-tiba diselubungi kegelapan bak panggung teater.
Dari langit-langit tergantung sebuah jam yang tampak dipahat dari lilin merah, tetesan karminnya mengalir membasahi lantai di bawah, seolah waktu itu sendiri larut, sebuah pengingat sunyi akan masa kini yang terasa semakin rapuh.
Perancang busana Indonesia Adrian Gan mempersembahkan Séance, koleksi couture yang terungkap seperti sebuah ritual, memburamkan memori dan imajinasi, pada bulan Desember tahun lalu. Gaun-gaun berbordir kaya, rok patchwork, dan bodice yang terstruktur mengambil inspirasi dari kode busana abad ke-19, ditafsirkan kembali melalui kerajinan modern.
Terbuat dari material vintage yang berasal dari tahun 1894, koleksi ini mencerminkan pendekatan desain kontemporer yang semakin membentuk fesyen: penggunaan kembali tekstil arsip sebagai pilihan estetika maupun etika, di mana keberlanjutan tidak terpisahkan dari kerajinan.
Di antara busana tersebut ada gaun hitam berenda tebal dengan jais berusia dua abad, manik-manik jet yang terbuat dari kayu fosil yang dulu digunakan pada gaun malam era Victoria. Di tempat lain, Adrian menarik dari arsip pribadinya berupa batik vintages, merombak tekstil tersebut menjadi komposisi patchwork yang menampilkan motif keris dan wayang, membiarkan simbol warisan muncul melalui siluet modern.
“Material vintage selalu membawa jiwa mereka sendiri,” kata Adrian. “Itulah sebabnya saya tertarik menggunakannya.”
Pendekatan Adrian Gan mencerminkan pergeseran yang lebih luas yang membentuk fesyen seiring industri bergerak menuju 2026. Preferensi konsumen semakin dipandu oleh keberlanjutan, kerajinan, dan penghormatan yang diperbaharui terhadap tradisi, nilai-nilai yang muncul sebagai respons terhadap ketidakpastian lingkungan, gaya hidup yang serba cepat, dan dominasi teknologi yang semakin kuat.