Museum Baru Dibuka di Kuta untuk Mengenang Serangan Bom Bali

15 Januari 2026

Hampir 24 tahun setelah Serangan Bom Bali pada Oktober 2002, Bali telah mengonfirmasi bahwa sebuah museum baru akan dibuka di lahan tempat serangan itu terjadi. Serangan Bom Bali menewaskan 202 orang, termasuk 88 warga negara Australia.

Bali Bombing Memorial in Kuta.jpg

Bupati Badung, Wayan Adi Arnawa, menerima kunjungan Konsul Jenderal Australia, Jo Stevens. Keduanya bertemu untuk membahas hubungan istimewa antara Australia dan Bali, serta mengeksplorasi cara memperkuat kerja sama yang sedang berlangsung dan merencanakan Museum Perdamaian di tanah tempat Sari Club dahulu berdiri, di jantung Kuta.

Pertemuan itu juga dihadiri oleh Konsul Diplomasi Publik Australia Lachlan Norton, Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung I Gde Eka Sudarwitha, dan Pelaksana Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Badung I Nyoman R Karyasa. Rencana untuk membangun Bali Peace Museum telah lama direncanakan, meskipun langkah konkret pertama untuk membangun museum itu diambil pada awal 2025.

Setelah satu tahun, ada harapan bahwa Bali Peace Museum bisa dibuka pada akhir 2026. Bupati Arnawa, yang mengawasi resor-pariwisata teratas di Bali, termasuk Kuta, Legian, dan Seminyak, mengatakan kepada pertemuan tersebut, “Museum ini dirancang sebagai ruang peringatan untuk mengenang peristiwa tersebut serta sebagai simbol perdamaian dan penghormatan bagi para korban tragedi kemanusiaan.”

Dia menambahkan, “Pemerintah Kabupaten Badung telah mengalokasikan anggaran untuk pembangunan museum pada 2026 sebagai wujud komitmen nyata.” Bupati mencatat bahwa Bali Peace Museum akan berfungsi sebagai kesempatan untuk menjadi destinasi edukasi, serta mengenang kehidupan yang hilang dalam serangan tersebut, dan menghormati semua orang yang masih hidup dengan dampak seumur hidup dari peristiwa 12 Oktober 2002.

Konsul Jenderal Stevens berbagi, “Kami bersyukur dan sepenuhnya mendukung pembentukan museum ini sebagai simbol persahabatan dan cerminan sejarah.”

Kepala Pelaksana Badan Pekerjaan Umum dan Perumahan Badung, I Nyoman R. Karyasa, mencatat bahwa Bali Peace Museum akan didirikan berdasarkan prinsip Bali ‘Samsara’ (kelahiran, kehidupan, dan kematian). Museum ini akan dibangun di atas lahan seluas 15 acre, tepat beberapa langkah dari Bali Bombing Memorial.

Back in January 2025, it was confirmed by the  Head of the Badung Regency Culture Office, Gede Eka Sudarwitha, that the 15 acres of land that were previously the Sari Club had been successfully purchased by the regency government for IDR 60 billion.

Speaking at the time, Sudariwtha explained, “This is in accordance with the Badung Regency Government’s policy. This museum will not only be a space for reflection but also a symbol of peace.”

Lokasi Sari Club: Museum akan dibangun di atas lahan spesifik tempat serangan itu terjadi.

Pemerintah Kabupaten berhasil membeli lahan seluas 15 acre ini untuk IDR 60 miliar guna memastikan tempat itu tetap menjadi tempat kenangan daripada pengembangan komersial.

Filosofi: Desainnya berakar pada prinsip Hindu Bali Samsara (kelahiran, kehidupan, dan kematian).

Dirancang tidak hanya sebagai monumen untuk 202 korban, tetapi juga sebagai pusat pendidikan dan mercusuar perdamaian serta rekonsiliasi secara global.

Usaha Bersama: Karena 88 warga Australia kehilangan nyawa dalam serangan 2002, proyek ini menjadi titik utama kerja sama.

Konsul Jenderal Australia telah mengunjungi Bupati Badung untuk sepenuhnya mendukung konstruksi sebagai “simbol persahabatan.”

Status Saat Ini: Detail Engineering Design (DED) sedang berlangsung.

Mulai Konstruksi: Anggaran dialokasikan untuk 2026.

Perkiraan Pembukaan: Akhir 2026 atau Awal 2027.

Dia menambahkan, “Saat ini, kami sedang dalam proses Detail Engineering Design, yang diperkirakan akan selesai tahun ini. Jika semua berjalan sesuai rencana, konstruksi fisik akan dimulai pada 2026.”

Menambahkan bahwa “Melalui museum ini, kami ingin menanamkan pentingnya hidup berdampingan dalam damai, menghormati perbedaan.”

Bali-Bombing-Memorial-In-Central-Kuta

Proyek ini telah mendapat dukungan kuat dari pemimpin politik setempat, komunitas lokal, dan wisatawan internasional. Ketua DPRD Kabupaten Badung, I Gusti Anom Gumanti, juga memberikan dukungan untuk gagasan tersebut dan berbagi harapannya bahwa Bali Peace Museum akan menjadi mercusuar perdamaian, kemanusiaan, dan rekonsiliasi di tingkat global.

Gumati mengatakan, “Museum ini akan menyimpan dokumen penting tragedi Bom Bali, serta menjadi pengingat bagi generasi mendatang untuk selalu menjaga perdamaian.” Menambahkan, “Dengan museum ini, kita ingin memastikan bahwa nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian tidak pernah pudar.”

Bali Bombing Memorial In Kuta

Tidak ada tanggal pasti pembukaan Bali Peace Museum yang telah diumumkan, meskipun akhir 2026 atau awal 2027 adalah kerangka waktu yang dirujuk para pemimpin. Bali Bombing Memorial dapat ditemukan di Jalan Legian, dan sering disebut sebagai Bali Bombing Memorial Sari Club atau Ground Zero.

Memorial ini menampilkan nama-nama 202 orang yang kehilangan nyawa dalam serangan tersebut, dan setiap tahun pada tanggal 12 Oktober, ratusan orang berkumpul untuk berdoa bersama selama acara peringatan.

Rizky Pratama

Rizky Pratama

Saya Rizky Pratama, penulis dan jurnalis yang mencintai dunia wisata dan budaya Indonesia. Melalui MADURACORNER.com, saya berbagi cerita, destinasi, dan inspirasi perjalanan dari seluruh Nusantara. Bagi saya, setiap perjalanan adalah kisah yang layak untuk dibagikan.

Tinggalkan komentar