Pangku: Pandangan Lembut Reza Rahadian tentang Keibuan dan Realisme

23 November 2025

Di satu sisi, seolah-olah Pangku melanjutkan tradisi panjang sinema Indonesia dalam bercerita tentang pergumulan seorang ibu. Di sisi lain, Pangku terungkap dengan nuansa realisme yang tidak tergesa-gesa, tanpa bombast dramatis yang biasanya diandalkan oleh sebagian besar pembuat film Indonesia.

Tapi mungkin itulah cara terbaik untuk menceritakan kisah pahlawan ibu dalam Pangku. Lebih penting lagi, ini juga mungkin bagaimana Reza ingin memperkenalkan dirinya sebagai sutradara film sejak awal. Setelah pemutaran pers film itu pada 28 Oktober, ia mengungkapkan bahwa ia ingin dikenal sebagai sutradara yang “selaras dengan realisme yang terbangun di dalam adegan.”

“Saya cukup terlibat langsung dalam bagaimana hal-hal visual diciptakan, baik dari segi menentukan sudut maupun memilih lokasi tertentu,” ujar Reza dalam percakapan satu-satu. “Saya [masih] tidak tahu sutradara seperti apa diri saya, mengingat ini adalah film pertamaku [sebagai sutradara]. Namun, jika saya bisa menyatakan diri, mungkin itulah jenis sutradara yang saya miliki.”

Meski Reza masih menemukan identitasnya sebagai sutradara film, ia yakin pada satu hal. Sebagai sutradara, ia tidak suka mengarahkan perasaan penonton.

“Bahkan ketika saya mempersiapkan naskah dan mengembangkan film, terkadang produser memberikan masukan seperti apakah saya perlu menambahkan peningkatan pada bidikan sehingga lebih sendu dan sebagainya,” lanjutnya. “Namun saya berkata, ‘Tidak, tidak, mari kita tidak melakukan itu.’ Saya tidak ingin mengarahkan perasaan seperti itu. Biarkan penonton merasakan apa pun yang mereka rasakan.”

Rizky Pratama

Rizky Pratama

Saya Rizky Pratama, penulis dan jurnalis yang mencintai dunia wisata dan budaya Indonesia. Melalui MADURACORNER.com, saya berbagi cerita, destinasi, dan inspirasi perjalanan dari seluruh Nusantara. Bagi saya, setiap perjalanan adalah kisah yang layak untuk dibagikan.