Bagi sebagian dari kita yang akrab dengan kedatangan di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai di Bali pada jam sibuk puncak atau kapan saja selama musim puncak, kita sangat memahami betapa ketatnya antrean itu.
Dari imigrasi hingga pengambilan bagasi, waktu antrean di masa lalu pernah mencapai berjam-jam, dan para pemimpin ingin memastikan hal itu tidak akan pernah terjadi lagi.

Minggu ini, Kantor Imigrasi Kelas I Khusus di Bandara Internasional Ngurah Rai telah mengonfirmasi bahwa mereka bersiap untuk sepenuhnya merombak aliran penumpang di area kedatangan internasional Bandara I Gusti Ngurah Rai.
Langkah ini diambil untuk menciptakan layanan pemeriksaan imigrasi yang mulus, lebih cepat, dan lebih nyaman bagi semua penumpang internasional yang tiba di Bali.
Kepala Kantor Imigrasi Ngurah Rai, Bugie Kurniawan, mengatakan kepada wartawan bahwa tata letak saat ini dari area kedatangan internasional Bandara Ngurah Rai berbeda dengan Bandara Soekarno-Hatta, yang memiliki jalur kedatangan yang lebih panjang. Inilah sebabnya para pendatang di Jakarta sering menghadapi waktu antre yang lebih singkat meski pada arus kedatangan yang sedang puncak.
Kurniawan menjelaskan, “Jika Anda berada di Soekarno-Hatta, Anda mungkin pernah mengalami kedatangan di Terminal 3. Dari pintu keluar pesawat hingga klaim bagasi, perjalanannya cukup panjang.”
Ia juga menyoroti bagaimana, saat kedatangan di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, penumpang memasuki area kedatangan dengan melewati terlebih dahulu konter Visa on Arrival (VOA), meja karantina, dan perangkat Pendaftaran Online Indonesia, sebelum menuju ke klaim bagasi.
Dia mengonfirmasi bahwa rencananya adalah menciptakan aliran penumpang baru yang membawa kedatangan penumpang langsung ke kendali imigrasi. Ini dimungkinkan sekarang sebagian karena upaya menghentikan adopsi eVisa secara luas, sehingga kedatangan wisatawan memiliki visa yang disetujui sebelum mendarat di Bali.
Kurniawan menjelaskan, “Dengan cara ini, semua penumpang akan langsung menuju imigrasi, baik melalui autogate maupun ke konter. Dari sana, kami akan mengarahkan mereka sesuai kebutuhan.”
Dia mengonfirmasi bahwa layanan Visa on Arrival akan tetap tersedia. Dengan aliran kedatangan yang baru, penumpang yang telah memenuhi semua persyaratan masuk ke Indonesia, termasuk mereka yang memiliki eVOA, akan diizinkan untuk lewat langsung. Sementara itu, penumpang yang tidak memiliki visa akan diarahkan ke konter VOA. Penumpang yang belum menyelesaikan formulir Online Indonesia juga akan diarahkan ke perangkat kedatangan yang disediakan.

Ke depannya, Imigrasi Ngurah Rai akan terus mendorong peningkatan penggunaan autogates untuk mempercepat pemeriksaan imigrasi.
Kurniawan menjelaskan bahwa autogates mengurangi pemeriksaan imigrasi menjadi hanya beberapa detik, membantu menjaga penumpang kedatangan tetap bergerak. Ia mencatat, “Karena autogate ini sangat cepat, hal itu tidak mengorbankan keamanan. Sistem pemeriksaannya sangat canggih.”
Ia menambahkan, “Harapannya agar penumpang akan menyelesaikan pemeriksaan imigrasi lebih cepat, lebih lancar, dan lebih nyaman. Hal ini bisa tersebar melalui mulut ke mulut bahwa Imigrasi Ngurah Rai menjadi lebih canggih, lebih mudah, dan lebih praktis.”

Kedatangan di Bandara Bali dalam beberapa hari mendatang juga akan melihat perubahan lain di terminal kedatangan. Menyusul meletusnya Hantavirus pada MV Hondius, dan sejalan dengan respons internasional, Bandara Bali telah memasang kamera termal untuk membantu meningkatkan biosekuriti provinsi tersebut.
Berbicara kepada wartawan, Gede Eka Sandi Asmadi, Kepala Divisi Komunikasi dan Legal di Bandara I Gusti Ngurah Rai, mengonfirmasi bahwa tim bandara bekerja bersama Pusat Karantina Kesehatan Denpasar (BBKK) untuk meningkatkan pemeriksaan kesehatan bagi penumpang yang tiba di Bali.

Ia menjelaskan, “Sebagai langkah awal terkait penyaringan kondisi kesehatan penumpang, Pusat Karantina Kesehatan Denpasar (BBKK) telah menempatkan dua pemindai termal di terminal kedatangan internasional dan satu unit di area kedatangan domestik, dengan pemantauan oleh petugas BBKK.”
Concluding, “We ensure that all areas of the airport consistently meet hygiene standards, including waste management, to prevent litter that could potentially become a breeding ground for rats and/or other sources of disease.”
Rizky Pratama