Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kanker menyebabkan hampir 10 juta kematian di seluruh dunia pada tahun 2020, menjadikannya salah satu penyebab kematian utama secara global, dengan kanker paru-paru, payudara, kolorektal, dan prostat termasuk di antara jenis yang paling umum.
Data terkini dari Kementerian Kesehatan menunjukkan sekitar 400.000 kasus kanker baru terdeteksi setiap tahun di negara ini, dengan kematian mencapai sekitar 240.000 setiap tahun. Tanpa pencegahan yang lebih kuat dan deteksi dini, beban kanker negara ini diperkirakan akan meningkat lebih dari 70 persen pada tahun 2050.
Di Jakarta saja, dinas kesehatan kota mencatat lebih dari 625.000 kunjungan pasien rawat jalan kanker dan hampir 110.000 kunjungan pasien rawat inap kanker pada tahun 2025, dengan kematian di ibu kota meningkat sebesar 33 persen dari tahun sebelumnya.
Untuk menangani kasus-kasus seperti itu, dokter memulai dengan tes genetik untuk mengidentifikasi mutasi tumor tertentu.
“Dokter memeriksa ekspresi genetik tumor terlebih dahulu untuk menentukan perawatan mana yang paling sesuai,” ujar Adityawati Ganggaiswari, direktur Mochtar Riady Comprehensive Cancer Center (MRCCC) Siloam Hospitals, pada Summit Onkologi Siloam ke-6 2026 pada akhir Mei di Hotel Shangri-La di Jakarta Pusat.
Temuan tersebut kemudian dibawa ke tim multidisipliner (MDT), yang terdiri dari para ahli dari berbagai bidang yang akan meninjau kasus pasien secara bersama-sama sebelum perawatan apa pun dimulai.