It is the dream of every family to have a proper home, good education and a stable lifestyle, but each must confront and manage a vulnerability gap.
Adalah impian setiap keluarga untuk memiliki rumah yang layak, pendidikan yang baik, dan gaya hidup yang stabil, tetapi masing-masing keluarga harus menghadapi dan mengelola kesenjangan kerentanan.
“The vulnerability gap comes from equating stability with security, while in truth, they don’t walk hand in hand,” Sun Life marketing chief Maika Randini said in a press release issued on Dec. 26.
“Kesenjangan kerentanan berasal dari menyamakan kestabilan dengan keamanan, sementara kenyataannya keduanya tidak berjalan beriringan,” kata Maika Randini, kepala pemasaran Sun Life, dalam siaran pers yang dikeluarkan pada tanggal 26 Desember.
“There are several factors causing vulnerability gap among Indonesian families,” she said.
“Ada beberapa faktor yang menyebabkan kesenjangan kerentanan di antara keluarga Indonesia,” katanya.
The first is relying on a single breadwinner, which is typical among many families. This increases a household’s financial risk significantly, not only in terms of stability but also long-term planning for their children’s future.
Yang pertama adalah mengandalkan satu penghasilan utama, yang umum di banyak keluarga. Hal ini meningkatkan risiko finansial rumah tangga secara signifikan, tidak hanya dalam hal stabilitas tetapi juga perencanaan jangka panjang bagi masa depan anak-anak mereka.
The second is a lifestyle increase as incomes rise. Stable families in general have a high cost of living, such as tuition from premium schools, installment payments for major assets, regular travel and maintenance.
Yang kedua adalah peningkatan gaya hidup seiring meningkatnya pendapatan. Keluarga yang stabil pada umumnya memiliki biaya hidup yang tinggi, seperti biaya sekolah di sekolah berbiaya tinggi, cicilan untuk aset utama, perjalanan rutin, dan perawatan.
The third is having many non-liquid assets, meaning they cannot be easily converted to cash.
Yang ketiga adalah memiliki banyak aset non-likuid, artinya aset tersebut tidak mudah diuangkan.
While families typically measured their financial stability in assets such as property, businesses and long-term investments, Maika cautioned that most of these “are not liquid, because they are not easily sold when necessary”.
Meskipun keluarga biasanya mengukur stabilitas keuangan mereka melalui aset seperti properti, bisnis, dan investasi jangka panjang, Maika memperingatkan bahwa sebagian besar aset tersebut “tidak likuid, karena tidak mudah dijual ketika diperlukan”.
The last factor is cross-generational responsibility. The more stable a family is, the larger the responsibility it bears for both previous and future generations.
Faktor terakhir adalah tanggung jawab antar generasi. Semakin stabil sebuah keluarga, semakin besar tanggung jawab yang diembannya terhadap generasi sebelumnya maupun yang akan datang.
“For families in a sandwich generation, their responsibility covers supporting children’s education and future while at the same time taking care of elderly parents,” she said.
“Untuk keluarga dalam generasi sandwich, tanggung jawab mereka mencakup mendukung pendidikan anak-anak dan masa depan sambil juga merawat orang tua lanjut usia,” katanya.
According to the Sun Life Asia Financial Resilience Index Indonesia 2025, as much as 71 percent of Indonesian families aspires to build theire wealth.
Menurut Sun Life Asia Financial Resilience Index Indonesia 2025, sebanyak 71 persen keluarga Indonesia bercita-cita membangun kekayaan mereka.
Maika said there were several steps that families could take to realize their aspiration while managing more complex risks, such as having an income replacement plan and a protection plan for high earners to maintain stable household cash flow.
Maika mengatakan ada beberapa langkah yang bisa dilakukan keluarga untuk mewujudkan aspirasi mereka sambil menghadapi risiko yang lebih kompleks, seperti memiliki rencana pengganti penghasilan dan rencana perlindungan untuk para pekerja berpenghasilan tinggi agar arus kas rumah tangga tetap stabil.
Families with large but non-liquid assets might want to take out a tax-free inheritance protection, which was liquid and could be used immediately by heirs, she suggested.
Keluarga dengan aset besar namun non-likuid mungkin ingin mengajukan perlindungan warisan bebas pajak, yang bersifat likuid dan bisa digunakan segera oleh ahli waris, ujar dia.
For long-term protection, families should have a structured, cross-generational financial plan so that inheritance can be both legally compliant and fulfill a family’s needs.
Untuk perlindungan jangka panjang, keluarga sebaiknya memiliki rencana keuangan terstruktur lintas generasi sehingga warisan dapat memenuhi kepatuhan hukum dan kebutuhan keluarga.
Meanwhile, parents should prepare education finance plans because school tuitions are increasing every year.
Sementara itu, orang tua harus mempersiapkan rencana keuangan pendidikan karena biaya sekolah meningkat setiap tahun.
July data from Statistics Indonesia (BPS) showed that the education sector recorded 1.95 percent inflation, with the highest increase of 3.12 percent recorded in early childhood and elementary education.
Data Juli dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sektor pendidikan mencatat inflasi sebesar 1,95 persen, dengan kenaikan tertinggi 3,12 persen tercatat pada pendidikan usia dini dan sekolah dasar.
“That is why preparing education funds is a fundamental thing that parents must do, especially those in the sandwich generation. […] Parents can start by deciding when their children will enter each [education] level and then find out the estimated tuition fees for that year, including projected inflation,” said Maika.
“Itulah sebabnya menyiapkan dana pendidikan adalah hal fundamental yang harus dilakukan orang tua, terutama bagi mereka yang berada dalam generasi sandwich. […] Orang tua dapat mulai dengan menentukan kapan anak-anak mereka akan memasuki setiap tingkat [pendidikan] dan kemudian mengetahui perkiraan biaya kuliah untuk tahun itu, termasuk proyeksi inflasi,” kata Maika.
Once all related educational costs were estimated, the next step was for parents to have a consistent financial strategy, such as setting aside 5 to 10 percent of their monthly income.
Setelah semua biaya pendidikan terkait diperkirakan, langkah selanjutnya adalah bagi orang tua untuk memiliki strategi keuangan yang konsisten, seperti menyisihkan 5 hingga 10 persen dari pendapatan bulanan mereka.
Parents must also decide on a clear target, such as how much money to save over a certain period.
Orang tua juga harus menentukan target yang jelas, misalnya berapa banyak uang yang akan disimpan selama periode tertentu.
In addition to savings and protection, Maika suggested parents also consider diversifying their financial instruments so the fund keeps growing, such as equity mutual funds or mixed mutual funds.
Selain tabungan dan perlindungan, Maika menyarankan orang tua juga mempertimbangkan diversifikasi instrumen keuangan agar dana tersebut terus tumbuh, seperti reksa dana saham atau reksa dana campuran.
“Investment instruments help to grow the funds while protection instruments can provide a safety net in case of an emergency,” she said.
“Instrumen investasi membantu mengembangkan dana sementara instrumen perlindungan dapat memberikan jaring pengaman jika terjadi keadaan darurat,” katanya.