Dinamai kampanye Feel Your Own Pulse (Menari), deteksi dini dilakukan dengan menempatkan jari telunjuk dan jari tengah pada pergelangan tangan atau leher untuk menghitung denyut nadi.
“Hitung denyut nadi selama 30 detik dan kalikan dengan 2 untuk mendapatkan denyut per menit,” ujar Dicky Armein Hanafy, kepala Satgas Pulse Day dan ketua hubungan publik Asia Pasifik Hearth Rhythm Society (APHRS), dalam sebuah pernyataan media.
“Laju denyut normal biasanya berkisar antara 60 hingga 100 denyut per menit.”
Dicky berbicara pada konferensi pers yang memperkenalkan Menari dan Road to 2026 Pulse Day dalam kolaborasi global untuk meningkatkan kesadaran tentang aritmia pada hari Kamis.
Pulse Day diperingati pada tanggal 1 Maret sebagai pengingat tegas bahwa satu dari tiga orang berisiko mengalami aritmia serius.
Pulse Day juga merupakan inisiatif kesadaran global untuk meningkatkan pemahaman tentang aritmia jantung sehingga orang mengambil langkah-langkah sederhana namun berdampak untuk melindungi jantung mereka, seperti mengetahui detak jantung, memeriksa denyut nadi secara rutin dan segera berkonsultasi dengan tenaga medis jika ada kelainan.
Pembicara lain, Agung Fabian Chandranegara, sekretaris jenderal Indonesian Heart Rhythm Society InaHRS, menyoroti kematian jantung mendadak (SCD) sebagai masalah kardiovaskular yang serius.
“Kematian jantung mendadak (SCD) menyumbang sekitar 10 hingga 15 persen dari kematian global setiap tahun,” katanya kepada konferensi pers.
“Ini berarti jutaan nyawa telah hilang secara mendadak akibat masalah detak jantung yang tidak terdeteksi.”
Agung juga mengatakan bahwa kasus SCD diperkirakan mencapai 40 hingga 100 kasus per 100.000 orang per tahun dan bahwa laki-laki memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi sebesar 5,23 dibandingkan tingkat kematian wanita sebesar 2,71.
Dia mengatakan bahwa pencegahan dan deteksi dini adalah langkah yang paling efektif, menyarankan masyarakat memahami faktor risiko pribadi dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin.
Hal penting lainnya adalah mengetahui bagaimana melakukan resusitasi jantung-paru (CPR).
“Pelatihan CPR telah terbukti meningkatkan peluang hidup hingga lima kali lipat,” kata Agung.
Selain pentingnya deteksi dini dan pengobatan gangguan detak jantung, pembahasan aritmia perlu ditangani secara lebih strategis oleh sistem kesehatan nasional.
Ini dapat dilakukan melalui Blueprint Nasional Aritmia sebagai panduan strategis untuk memperkuat layanan kesehatan untuk aritmia, yang mencakup peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan fasilitas kesehatan serta teknologi deteksi terintegrasi dan tata kelola aritmia di semua tingkat masyarakat.
Ketua InaHRS Erika Maharani mengatakan bahwa blueprint tersebut dirancang sebagai panduan strategis untuk memperkuat deteksi dini aritmia dan tata kelola dengan mentransformasikan enam pilar: layanan utama, layanan rujukan, ketahanan kesehatan, pembiayaan kesehatan, sumber daya manusia kesehatan dan teknologi medis.
“Transformasi ini dimaksudkan untuk mencapai layanan aritmia yang lebih merata, mudah diakses, dan didukung oleh tenaga medis yang kompeten serta teknologi di seluruh negeri,” katanya. (nvn)