Pelukis terkenal Ratmini Soedjatmoko seharusnya merayakan ulang tahunnya yang ke-100 pada 18 November tahun ini.
Beyond Horizons, sebuah pameran di Hadiprana Gallery di Jakarta Selatan yang dibuka pada 1 Desember dan berlangsung hingga 10 Januari 2026, dipresentasikan sebagai penghormatan kepada seorang wanita yang berhasil menyelaraskan kekuatan kreatifnya yang luar biasa dengan kehidupan yang penuh: sebagai istri seorang diplomat, seorang ibu bagi tiga putri, dan peserta aktif dalam ranah sosial serta budaya.
Sekitar 50 karya seni menjadi bukti estetika beliau, terlihat melalui beragam teknik, mulai dari keterampilan melukis yang didapat secara formal hingga eksperimen yang lahir dari latihan panjang dan kombinasi warna yang diperkaya dengan kepekaan intuitif, kualitas-kualitas yang bisa digambarkan sebagai bentuk energi feminin.
Suatu sorotan khusus adalah seri sumi-e-nya. Berbeda dengan karyanya yang menggunakan akrilik, 18 lukisan tinta Jepang ini belum pernah terlihat di Indonesia dan pernah dipamerkan hanya satu kali pada tahun 1987, dalam pameran tunggal eksklusifnya di International House of Japan di Tokyo.
Ratmini mempelajari disiplin ini selama tujuh tahun di Tokyo, tempat ia belajar di bawah seniman kontemporer Shoko Ohta. Pada awalnya, ia hanya diizinkan menyalin karya Jepang yang sudah ada, tetapi tidak butuh waktu lama sebelum ia diizinkan untuk menciptakan komposisinya sendiri.
Sumi-e adalah bentuk seni tradisional yang menggunakan tinta hitam, dibuat dengan menggiling sebatang tinta dengan air, dan kuas dengan ketebalan yang berbeda-beda untuk menangkap esensi suatu subjek. Diperkenalkan ke Jepang oleh para biksu Buddha dari Tiongkok, praktik ini mencerminkan prinsip Zen yang minimalis, dengan nuansa hitam yang dimodulasi menghasilkan spektrum abu-abu yang lengkap.
Menurut kurator dan arsitek Indonesia Reny Alwi, teknik ini menuntut ketelitian yang sangat tinggi dan menggunakan sejenis kertas khusus sebagai “kanvas”-nya.