Roda Ikonik yang Tertinggal di Jakarta

5 Oktober 2026

Becak mulai beroperasi di Jakarta pada tahun 1936 dan dengan cepat menjadi moda transportasi umum utama. Pada tahun 1970, diperkirakan sekitar 150.000 becak beroperasi di ibu kota, bersama sekitar 300.000 pengemudi yang bekerja dalam dua shift, menurut catatan sejarah yang dikutip oleh Antara.

Kendaraan tiga roda yang dulu sangat lazim ini semakin disalahkan atas kemacetan kota dan dikritik karena dianggap usang karena mengandalkan tenaga manusia. Pada 1970, gubernur Ali Sadikin melarang produksi becak baru dan masuknya becak ke Jakarta.

The following year, the city restricted them from major roads, then a 1972 regulation classified becak alongside oplet, a type of public minivan, as forms of transport unsuitable for the capital.

Tahun berikutnya, kota membatasi mereka dari jalan-jalan utama, kemudian peraturan tahun 1972 mengklasifikasikan becak bersamaan dengan oplet, sejenis minivan publik, sebagai bentuk transportasi yang tidak layak bagi ibu kota.

The crackdown continued under successive administrations. The City Council passed a total ban in 1988 and in April 1990, the Jakarta administration moved to remove becak altogether. On Oct. 6, 1987, during a raid on Jl. Wolter Monginsidi in South Jakarta, officers seized and loaded pedicabs onto trucks as traffic whizzed by, seemingly oblivious to their removal.

Penindakan berlanjut di bawah pemerintahan yang berurutan. Dewan Kota mengesahkan pelarangan total pada 1988 dan pada April 1990, pemerintahan Jakarta bergerak untuk menghapus becak sepenuhnya. Pada 6 Oktober 1987, selama penggerebekan di Jl. Wolter Monginsidi di Jakarta Selatan, petugas menyita dan memuat becak ke dalam truk-truk saat arus lalu lintas melintas, seakan-akan tidak menyadari penghapusan mereka.

During the 1997-1998 Asian financial crisis, governor Sutiyoso briefly relaxed the ban to help people affected by the economic downturn. Becak quickly returned to the city streets, but the reprieve lasted less than a week.

Selama krisis keuangan Asia 1997-1998, gubernur Sutiyoso sempat melonggarkan larangan itu untuk membantu orang-orang yang terdampak penurunan ekonomi. Becak dengan cepat kembali ke jalan-jalan kota, tetapi masa kelonggaran itu bertahan kurang dari seminggu.

The issue resurfaced two decades later under governor Anies Baswedan, who proposed the revival of becak in 2018 as localized neighborhood transport, with special routes keeping them off major roads.

Isu ini muncul kembali dua dekade kemudian di bawah gubernur Anies Baswedan, yang mengusulkan kebangkitan becak pada 2018 sebagai transportasi lingkungan sekitar yang terlokalisasi, dengan rute khusus yang menjaganya agar tidak melintasi jalan-jalan utama.

Rizky Pratama

Rizky Pratama

Saya Rizky Pratama, penulis dan jurnalis yang mencintai dunia wisata dan budaya Indonesia. Melalui MADURACORNER.com, saya berbagi cerita, destinasi, dan inspirasi perjalanan dari seluruh Nusantara. Bagi saya, setiap perjalanan adalah kisah yang layak untuk dibagikan.

Tinggalkan komentar