Setahun sebelumnya, lagu-lagu Ziva telah menjadi soundtrack bagi bulan-bulan terakhir Paskahril sebagai seorang mahasiswa, mengalun sepanjang malam-malam panjang menulis tesis.
“Rasanya seperti perayaan atas tahun yang telah berlalu,” katanya. “Dulu saya sering mendengarkan musiknya saat mengerjakan tesis.”
Kini ia mendapatkan gaji sendiri dengan bekerja sebagai akuntan di area Mega Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan; Paskahril telah menghabiskan berbulan-bulan menabung untuk tiket yang harganya sekitar Rp 1 juta (US$55.55).
Pada Sabtu malam, ia tiba di arena festival dua jam sebelum penyanyi favoritnya dijadwalkan tampil pada pukul 23.00.
Menyusuri ribuan penonton festival di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), dia terus memeriksa teleponnya berkali-kali untuk memastikan dia menuju panggung yang tepat.
Edisi ke-21 Java Jazz Festival menampilkan puluhan artis lokal dan internasional di beberapa panggung, termasuk penyanyi R&B asal Inggris Ella Mai, band indie rock Korea Selatan Wave to Earth, dan saksofonis asal Amerika Serikat Dave Koz, tetapi Paskahril datang untuk satu nama.