Sebuah studi yang dilakukan di Indonesia mengungkap efek tak terduga dari tanaman yang dikonsumsi setiap hari oleh jutaan orang

18 Desember 2025

Di banyak rumah, secangkir minuman hangat terasa seperti ritual yang akrab. Namun penelitian terbaru di Indonesia memunculkan temuan yang mengejutkan: kebiasaan harian itu membawa efek yang tidak hanya bermanfaat, tetapi juga berlapis dan kadang kontradiktif. “Kita sering menganggapnya netral, padahal respon tubuh kompleks,” ujar seorang peneliti dalam ringkasan studi. Temuan ini mengajak kita membaca ulang kebiasaan yang tampak sepele, namun sarat konsekuensi.

Temuan utama yang menggeser asumsi

Para peneliti menemukan bahwa konsumsi rutin minuman berbasis daun kaya polifenol—seperti teh—berkaitan dengan dua arah efek: peningkatan indikator ketenangan dan kemampuan fokus, sekaligus penurunan penyerapan zat besi non-heme ketika diminum dekat waktu makan. “Efek ganda ini terlihat jelas di kelompok usia produktif dan remaja,” kata ringkasan itu, menekankan pentingnya konteks: kapan diminum, apa yang dimakan, dan bagaimana pola harian terbentuk.

Di sisi positif, senyawa seperti L-theanine dan katekin tampak mendukung kognisi ringan dan kualitas mood. Banyak peserta melaporkan rasa “lebih jernih” dan “lebih tenang” setelah rutinitas harian. Tapi di sisi lain, kandungan tanin berinteraksi dengan mineral, terutama besi, menurunkan ketersediaannya ketika minuman dikonsumsi bersamaan dengan makanan kaya besi nabati.

Kenapa dampaknya terasa tak terduga

Kebiasaan turun-temurun sering dianggap aman tanpa syarat, sehingga efek penghambatan penyerapan besi terasa tidak intuitif. “Kita tumbuh bersama cangkir itu, sehingga lupa bahwa ia mengubah biokimia kecil-kecilan setiap hari,” ujar seorang nutrisionis yang terlibat. Banyak responden terkejut saat mengetahui bahwa waktu minum menentukan seberapa besar mineral terserap, bukan hanya jumlah yang dikonsumsi.

Kebaruan lain muncul pada aspek mikrobioma. Polifenol diduga mendukung pertumbuhan bakteri menguntungkan tertentu, membantu modulasi peradangan tingkat rendah. Namun efek ini bersifat halus dan berbeda pada tiap individu, menegaskan bahwa respons nutrisi selalu personal.

Mekanisme di balik layar

Para peneliti menyoroti tiga jalur utama:

  • Tanin berikatan dengan besi non-heme, membentuk kompleks yang lebih sulit diserap di usus.
  • L-theanine memengaruhi gelombang otak dan neurotransmiter, sehingga meningkatkan rasa tenang tanpa sedasi.
  • Polifenol berinteraksi dengan komunitas mikroba, berpotensi menekan spesies yang memicu inflamasi dan mendukung yang lebih menguntungkan.

“Bayangkan tombol volume kecil di tubuh yang dinaik-turunkan oleh satu kebiasaan,” kata salah satu peneliti. Efeknya tidak dramatis secara instan, tetapi akumulatif dalam skala mingguan hingga bulanan.

Siapa yang paling perlu waspada

Temuan paling konsisten muncul pada kelompok yang rentan kekurangan besi: remaja putri, wanita usia subur, serta ibu hamil atau menyusui. Pada mereka, waktu konsumsi menjadi faktor krusial. Jika minuman kaya tanin rutin diambil bersama atau segera setelah makan, penyerapan besi dapat turun secara bermakna. “Bukan berarti harus berhenti, tapi perlu strategi,” ujar ringkasan studi.

Sementara itu, pada kelompok yang tidak berisiko anemia, manfaat pada aspek kognitif ringan dan rasa tenang lebih menonjol, terutama bila kebiasaan diselaraskan dengan pola tidur dan asupan protein harian.

Cara menikmati manfaat tanpa menanggung sisi kurangnya

Untuk menimbang manfaat dan risiko secara lebih seimbang, para peneliti menyarankan beberapa langkah praktis berikut:

  • Jeda 1–2 jam antara minuman kaya tanin dan waktu makan, terutama bila menu mengandalkan sumber besi nabati.
  • Padukan dengan sumber vitamin C (misalnya jeruk atau jambu) di waktu terpisah dari makan utama untuk membantu penyerapan besi.
  • Sesekali pilih seduhan rendah tanin atau herbal non-tanin saat makan utama.
  • Perhatikan sinyal tubuh: mudah lelah, pucat, atau pusing bisa jadi tanda yang perlu dievaluasi.
  • Jaga variasi: hari-hari tanpa tanin tinggi memberi ruang pemulihan mineral.

“Tujuannya bukan melarang, melainkan mengatur,” tegas ringkasan. Dengan penyesuaian waktu dan kombinasi, manfaat tetap tersalur, risikonya mereda.

Dampak sosial dan budaya

Kebiasaan minum bersama bukan sekadar hidrasi, tetapi ritual kebersamaan. Studi ini mengajak pelaku industri dan komunitas kuliner untuk berinovasi: menghadirkan opsi seduhan alternatif saat makan siang, atau menyajikan penjelasan singkat di menu tentang waktu minum yang ideal. “Edukasi kecil di titik layanan sering punya dampak besar,” kata seorang pelaku kafe yang terlibat sebagai mitra.

Apa yang masih perlu diteliti

Meski temuan awal cukup solid, banyak pertanyaan tetap terbuka. Seberapa kuat peran genetik dan variasi mikrobioma? Bagaimana pengaruh metode seduh, suhu air, dan durasi perendaman terhadap profil tanin dan polifenol? “Detail kecil bisa mengubah hasil,” tulis tim, menandai agenda riset lanjutan yang lebih presisi.

Pada akhirnya, studi ini bukan tentang menyalahkan kebiasaan, melainkan memahami nuansa. Kebiasaan yang terasa sederhana ternyata mengatur serangkaian saklar halus di tubuh. Dengan sedikit kesadaran dan pengaturan waktu, jutaan orang bisa terus menikmati cangkir favorit mereka—lebih cerdas, lebih selaras dengan kebutuhan tubuh.

Rizky Pratama

Rizky Pratama

Saya Rizky Pratama, penulis dan jurnalis yang mencintai dunia wisata dan budaya Indonesia. Melalui MADURACORNER.com, saya berbagi cerita, destinasi, dan inspirasi perjalanan dari seluruh Nusantara. Bagi saya, setiap perjalanan adalah kisah yang layak untuk dibagikan.

Tinggalkan komentar