Sekolah dan Asosiasi Gelar Lokakarya Pembelajaran Sosial dan Emosional

28 Februari 2026

Mengingat pentingnya hal tersebut, Trehaus School Jakarta mengadakan lokakarya setengah hari tentang pembelajaran sosial-emosional (SEL) dan kecerdasan emosional pada anak-anak usia dini pada hari Sabtu.

Diselenggarakan bekerja sama dengan Asosiasi Sekolah Nasional dan Swasta (ANPS), lokakarya ini dibagi menjadi dua sesi, sehingga orangtua, pendidik, dan praktisi pendidikan anak usia dini dapat memperdalam pemahaman mereka tentang topik tersebut, kata penyelenggara dalam sebuah pernyataan.

Sesi pertama, “Membangun Anak-Anak dengan Kecerdasan Emosional melalui Mindfulness”, dipandu oleh Shareen Ratnani, kepala program di ANPS. Sesi ini mengeksplorasi bagaimana praktik mindfulness dapat diintegrasikan ke dalam interaksi sehari-hari untuk membantu anak-anak mengembangkan kesadaran emosional, pengaturan diri, dan ketahanan sejak usia dini.

“Di dunia yang serba cepat, mindfulness mengajarkan anak-anak satu keterampilan yang kuat: bagaimana berhenti sejenak, menarik napas, dan memilih. Ini adalah keterampilan hidup yang dimulai sejak usia dini,” kata Ratnani.

Sesi kedua diberi judul “Inti Pembelajaran Sosial-Emosional: Menghubungkan Diri Secara Mendalam dengan Anak-Anak Kecil” dan dipandu oleh Elizabeth Wu, pendiri bersama dan chief operating officer Trehaus.

Ia menekankan pentingnya membangun hubungan emosional yang kuat antara orang dewasa dan anak-anak, menyoroti mendengarkan secara aktif, kehadiran, dan komunikasi yang disengaja sebagai dasar pembelajaran yang efektif dan perkembangan emosional yang sehat.

“Pembelajaran sosial dan emosional [SEL] dimulai ketika para guru menyadari bahwa alat SEL yang paling kuat di kelas adalah mereka sendiri—pendidik yang ada pada momen-momen sehari-hari yang berarti bagi anak-anak,” kata Wu.

“Melalui lokakarya ini, para pendidik diundang untuk menyatu kembali dengan inti pembelajaran sosial dan emosional, yaitu mendengarkan dengan niat, berkomunikasi dengan empati, dan merespons kebutuhan anak-anak dengan cara yang membangun kepercayaan, ketahanan, dan hubungan yang bermakna.”

Sesi ini juga memperkenalkan strategi komunikasi non-kekerasan, membekali para pendidik untuk mengenali emosi mendasar anak-anak, menavigasi interaksi yang menantang dengan penuh kasih sayang, dan memperkuat kepercayaan serta hubungan di dalam kelas.

Selama lokakarya, para peserta memperoleh wawasan praktis dan strategi yang dapat diterapkan baik di rumah maupun di lingkungan pembelajaran dini.

Lokakarya ini juga mendorong dialog berarti antara orangtua dan pendidik, memperkuat peran bersama yang mereka mainkan dalam mendukung kesejahteraan emosional anak-anak.

Rizky Pratama

Rizky Pratama

Saya Rizky Pratama, penulis dan jurnalis yang mencintai dunia wisata dan budaya Indonesia. Melalui MADURACORNER.com, saya berbagi cerita, destinasi, dan inspirasi perjalanan dari seluruh Nusantara. Bagi saya, setiap perjalanan adalah kisah yang layak untuk dibagikan.

Tinggalkan komentar