Presentasi White Cube Hong Kong mengenai Thresholds, yang menampilkan sembilan seniman wanita dari Indonesia, mencerminkan momentum ini. Ini juga menekankan relevansi seni Asia Tenggara yang semakin luas dalam konteks internasional.
Walaupun beberapa seniman yang berpartisipasi telah lama tampil di luar negeri, pertemuan mereka dalam sebuah pameran kelompok di Hong Kong menawarkan sudut pandang yang segar. Dipandang bersama, karya-karya mereka membentuk konstelasi praktik yang bernuansa yang melintasi generasi, wilayah, dan pendekatan artistik.
Pameran ini dengan demikian mengisyaratkan sebuah pergeseran yang lebih luas, di mana seni Indonesia dan Asia Tenggara menuntut tempat yang lebih mantap dalam wacana global.
Pemetaan Kenangan
Thresholds menghadirkan karya-karya Arahmaiani, Christine Ay Tjoe, Citra Sasmita, Galuh Anindita, Ines Katamso, Jennifer Tee, Kei Imazu, Nadiah Bamadhaj, dan almarhum I Gusti Ayu “Murni” Kadek Murniasih. Wilayah tematik mereka berkisar dari memori dan mitos hingga politik, spiritualitas dan pengalaman hidup, masing-masing menawarkan pintu masuk yang berbeda ke dalam kompleksitas seni Indonesia kontemporer.
Galuh Anindita, lahir pada 1991, menyajikan dada yang dipenuhi perhiasan yang membangkitkan tubuh sebagai bejana suci, skala intimnya menyiratkan sejarah pribadi dan ritual. Christine Ay Tjoe (lahir 1973) menyumbang sebuah karya yang dibangun di sekitar instrumen, benda-benda yang berfungsi sebagai metafora bagi gestur, ketegangan, dan negosiasi internal yang membentuk praktiknya.