Venice Biennale 2026: Indonesia Mengungkap Printing the Unprinted

19 Juni 2026

Ia dimulai berjuta-juta tahun yang lalu di Afrika, tempat nenek moyang umat manusia pertama kali berjalan di bumi. Ia kemudian berlanjut melalui banjir Sundaland dan pembentukan Kepulauan Melayu, melalui kebangkitan peradaban sungai dan maritim di Afrika dan Asia serta jaringan pertukaran yang menghubungkan orang-orang di seantero lautan, jauh sebelum kedatangan kekuatan Eropa.

Memulai cerita di sini bukanlah latihan untuk merindukan masa lalu melainkan sebuah gestur dekolonial, sebuah pengingat bahwa sejarah manusia tidak dimulai dengan penaklukan, pengambilan sumber daya, atau imperium. Printing the Unprinted menyatukan sejarah-sejarah yang terhapus atau terpinggirkan dan kisah-kisah yang terlupakan, termasuk narasi kontra lokal, regional, adat, transnasional, dan kolonial.

Jauh sebelum kemodenan kolonial, orang-orang membentuk dunia-dunia kompleks pengetahuan, perdagangan, spiritualitas dan ikatan kekeluargaan di berbagai benua. Contohnya adalah para pelaut Bugis dari Sulawesi, yang pengetahuan navigasinya menghubungkan tepi-tepi jauh di seluruh kepulauan Indonesia dan seberangannya.

Sejarah mereka mengingatkan kita bahwa laut tidak pernah menjadi ruang kosong di antara daratan, melainkan wilayah hidup pertemuan, pertukaran, ingatan, dan rasa memiliki.

Cerita Pavilion Indonesia untuk Biennale Venesia ke-61 dimulai dengan “The Great Voyage” milik Datu Na Tolu Hamonangan yang dicatat dalam pustaha, manuskrip ramalan Batak yang secara tradisional disusun oleh datu (ahli ritual). “Voyage” membayangkan kembali ekspedisi Batak abad ke-15 dari Danau Toba di Sumatra melalui rute barat laut melintasi Selat Hormuz, Laut Merah, Alexandria di Mesir, Venesia dan lebih jauh ke utara menuju Passau di Jerman dan Amsterdam.

Manuskrip tersebut menggambarkan perjalanan itu sebagai sebuah lintasan melalui waktu, di mana sejarah tidak lagi ditulis dari perspektif Eropa tetapi dari perspektif Indonesia. Eropa dengan demikian diposisikan ulang, bukan sebagai pusat melainkan sebagai titik yang jauh di dalam peta dunia yang lebih luas yang penuh gerak dan pertukaran.

Rizky Pratama

Rizky Pratama

Saya Rizky Pratama, penulis dan jurnalis yang mencintai dunia wisata dan budaya Indonesia. Melalui MADURACORNER.com, saya berbagi cerita, destinasi, dan inspirasi perjalanan dari seluruh Nusantara. Bagi saya, setiap perjalanan adalah kisah yang layak untuk dibagikan.

Tinggalkan komentar