Wisatawan Bali Berkesempatan Membantu Melestarikan Kerajinan Tradisional yang Sedang Kesulitan

7 Juni 2026

Bali adalah salah satu pulau paling kreatif di dunia, dan itu hanyalah salah satu dari banyak alasan mengapa kami mencintainya di sini. Tampaknya kreativitas Bali tidak mengenal batas, dan ini bukan fenomena baru.

Selama berabad-abad, Bali telah menjadi rumah bagi para pengrajin dan seniman yang secara harfiah telah menenun kain budaya yang kita semua kenal dan cintai hari ini. Namun seiring dunia berubah dengan cepat, semua itu terancam. 

Ikat Weaving in Indonesia.jpg

Angkat tangan, siapa yang pernah berbelanja sarung di Bali? Sarung, yang sebenarnya seharusnya disebut dengan namanya yang sebenarnya, ‘Kamen’, adalah pembungkus kain yang dikenakan oleh pria dan wanita setiap hari. Kamen yang paling tradisional dibuat secara tenun tangan dan menggunakan benang yang diwarnai dengan teknik tradisional yang disebut Ikat. 

Kata Ikat secara harfiah berarti ‘mengikat’ dan merujuk pada teknik yang digunakan di seluruh Asia Tenggara; ini adalah sebuah kerajinan yang sedang berada dalam krisis. Dengan dunia modern yang berkembang dengan kecepatan luar biasa, kerajinan tradisional dan praktik warisan seperti tenun dan Ikat tidak diturunkan ke generasi berikutnya.

Syukurlah, di Bali, ada organisasi seperti Giri Putri Ikat Weaving Artisan Group di Kabupaten Bangli yang terus berupaya melestarikan warisan leluhur wilayah tersebut.

Selama lebih dari 20 tahun, kelompok ini secara konsisten menghasilkan kain tenun tradisional khas Bangli untuk melestarikan budaya setempat dari kepunahan. Salah satu aspek paling istimewa dari Ikat adalah bahwa ia adalah kerajinan yang sangat lokal. Sambil dipraktikkan secara luas di Asia Tenggara, setiap wilayah, setiap kabupaten, bahkan hingga tingkat sebuah desa tunggal, menciptakan kain tenun dengan pola dan warna unik yang menceritakan kisah komunitasnya. 

Berbicara kepada wartawan tentang perjuangan tersebut, Giri Putri Weaving Artisan Group menjelaskan bahwa kerajinan tenun saat ini menghadapi dua tantangan utama: pertama, kurangnya generasi penerus, dan kedua, ketergantungan berat pada bahan baku impor.

Salah satu pemilik usaha kain tenun ikat Giri Putri, Agung Giri, mengatakan bahwa seni menenun semakin kehilangan daya tarik di mata generasi muda. Ia berharap institusi pendidikan, terutama Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dapat mengintegrasikan seni menenun ke dalam program ekstrakurikuler.

Giri menjelaskan, “Sangat sulit bagi kami untuk langsung melibatkan generasi muda. Karena itu, kami membutuhkan keterlibatan sekolah dan sektor pendidikan. Jika kami memasukkan mereka ke dalam kegiatan ekstrakurikuler, mereka akan mulai belajar, belajar terus, dan dari sana mereka secara bertahap menjadi lebih bersedia untuk menekuninya.”

Dia mencatat bahwa perusahaan kami masih sepenuhnya bergantung pada benang impor karena pasokan kapas dan sutra berkualitas domestik belum cukup. 

Old-Woman-In-Bali-Weaves-Traditional-Batik-Fabric-On-A-Loom

Ia menjelaskan, “Untuk bahan baku, saat ini kami mengimpor benang kapas dari India karena Indonesia belum memiliki pasokan yang cukup. Sementara itu, kami mendapatkan benang sutra dari China.” Giri mengonfirmasi bahwa selembar kain tenun ikat Giri Putri yang terbuat dari benang kapas impor dihargai mulai dari IDR 300.000. Sementara itu, untuk kain sutra, harganya bisa mencapai IDR 800.000 per potong.

Catatan Samping: Apakah Anda pernah mendengar tren perjalanan terbaru di Bali? Wisatawan mengirimkan suvenir mereka pulang agar bisa membeli lebih banyak lagi dan menghemat biaya bagasi ekstra dengan maskapai mereka; sungguh sangat worth it!

Tourists-At-Bali-Market

Dengan kerajinan kuno ini terancam, para wisatawan dapat memainkan peran dalam mendukung kelangsungan praktik ini dengan cara sederhana dan bahkan interaktif. Ubud adalah ibu kota seni dan budaya Bali, dan karenanya para wisatawan tidak perlu keluar dari pusat kota untuk mendukung penenun Ikat dan mempelajari keterampilan ini secara lebih mendalam.

Threads of Life telah beroperasi sejak 1998 dan bekerja langsung dengan lebih dari 1200 penenun wanita serta mendukung pengembangan lebih dari 35 kelompok penenun di 12 pulau Indonesia, termasuk Bali. Wisatawan dapat mengunjungi Threads of Life Shop di Jalan Kajeng di Ubud dan berbelanja sepuasnya. Threads of Life memiliki studionya sendiri di mana wisatawan yang ingin tahu secara budaya dan kreatif dapat ikut dalam lokakarya pewarnaan alami, mulai dari pengantar setengah hari hingga retret kreatif multi-hari. 

Bali-Traditional-Wedding-Clothes

Wisatawan yang mengunjungi desa-desa Bali yang lebih pedesaan dan terpencil dapat berbicara dengan tuan rumah akomodasi mereka tentang mengunjungi kelompok tenun lokal dan menanyakan bagaimana cara mendukung atau membeli langsung dari penenun Ikat di komunitas tersebut untuk menjaga semuanya tetap lokal dan berkelanjutan.

Rizky Pratama

Rizky Pratama

Saya Rizky Pratama, penulis dan jurnalis yang mencintai dunia wisata dan budaya Indonesia. Melalui MADURACORNER.com, saya berbagi cerita, destinasi, dan inspirasi perjalanan dari seluruh Nusantara. Bagi saya, setiap perjalanan adalah kisah yang layak untuk dibagikan.

Tinggalkan komentar