Antonius Kho Menyulam Memori ke Dalam Dunia Mozaik di Pameran Tahun Kuda

10 Juni 2026

Menggunakan mekanisme menjahit yang telah ada sejak lama, pameran tunggal Antonius, yang diadakan untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-68 pada Tahun Kuda, menawarkan dialog visual dengan zodiak Tiongkok melalui teknik mirip mozaik yang mengeksplorasi tema identitas. Dipajang di Hadiprana Gallery di Kemang, Jakarta Selatan, pameran yang berlangsung hingga 26 Mei, hadir sebagai antitesis segar terhadap kejenuhan digital yang mendominasi wacana seni kontemporer.

Mengaplikasikan kombinasi warna yang menenangkan jiwa maupun mata kontemporer, ingatannya terungkap dalam formasi mozaik, sebuah teknik yang ia peroleh saat studi di Fine Arts FH, yang sekarang menjadi Technical University of Applied Sciences di Cologne, Jerman, dari 1984 hingga 1992. Pameran ini mengungkap seberapa dalam latar belakang pendidikan itu terus membentuk kosakata visualnya.

Berangkat dari pelatihan melukis kaca, Antonius memperlakukan kanvas seperti permukaan mozaik, menyusun pola-pola serpihan kain dan kertas bersama dengan bahan organik seperti jute, tali, dan kain bersulam. Permukaan bertekstur yang dihasilkannya menyerupai permadani tenun, halus namun secara struktural kokoh.

Perpaduan konstruksi mozaik yang kaku dengan material yang bisa diraba menciptakan gaya yang terasa sekaligus kuno dan kontemporer. Karya-karyanya membawa kehangatan tradisi kerajinan tangan sambil mempertahankan ritme visual yang secara khas modern. Di era yang semakin terpesona oleh kecerdasan buatan dan pengalaman virtual, karya-karya Antonius mengembalikan penonton pada sentuhan, kesabaran, dan keintiman material.

Panel-panel kecil yang menampilkan figur-figur abstrak dan makhluk-makhluk kecil yang muncul dari fantasi atau khayalan murni memenuhi pameran dengan aliran yang ceria. Karakter-karakter mini ini seakan-akan melayang bebas melintasi lanskap emosional, mengeksplorasi kehidupan dan perasaan secara humoris dan ringan. Bentuk-bentuk mereka yang terdistorsi dan ekspresi-ekspresi yang tidak biasa mengingatkan pada imajinasi masa kecil, di mana kepolosan dan kecemasan sering hidup berdampingan dalam keharmonian yang aneh.

Namun gambar kuda yang menjadi fokus perhatian sepanjang pameran. Karena karya-karya bertemakan kuda menyumbang hampir sepertiga dari total 53 karya yang dipamerkan, motif itu muncul sebagai benang emosional dan simbolik yang sentral.

Rizky Pratama

Rizky Pratama

Saya Rizky Pratama, penulis dan jurnalis yang mencintai dunia wisata dan budaya Indonesia. Melalui MADURACORNER.com, saya berbagi cerita, destinasi, dan inspirasi perjalanan dari seluruh Nusantara. Bagi saya, setiap perjalanan adalah kisah yang layak untuk dibagikan.

Tinggalkan komentar