Pada tanggal 29 Mei 2006, tanah di Sidoarjo terbuka, menyemburkan lumpur panas berbau menyengat yang mengeluarkan uap, yang menelan desa-desa dan pabrik-pabrik.
Tiga belas orang tewas ketika sebuah pipa gas bawah tanah di zona bencana meledak.
Letusan-letusan itu, yang terus berlanjut, menghancurkan setidaknya belasan desa dan telah menggusur puluhan ribu orang.
Harwati mengatakan pertemuan itu, yang diadakan pada hari Jumat untuk menandai dua dekade sejak bencana tersebut, diselenggarakan untuk mengingatkan pemerintah bahwa penduduk masih merasakan dampak aliran lumpur.
“Meskipun presiden berganti-ganti, kami masih berharap (pemerintah akan) memberikan keadilan bagi kami,” ujar Harwati, wanita berusia 50 tahun itu kepada AFP pada hari Sabtu, menegaskan bahwa bencana itu masih “jauh” dari selesai.
Dia menuntut pemerintah melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap dampak aliran lumpur terhadap kesehatan penduduk sekitar, dengan mengatakan bahwa banyak warga setempat telah menderita kanker setelah kejadian tersebut.