Dwi Listyorini, seorang ahli regulasi pengembangan satwa dari Batu, Jawa Timur, mengatakan dampak kehilangan habitat terlihat jelas pada lanskap yang berubah di sekitar kota kelahirannya selama beberapa dekade terakhir. Kawasan hutan di sekitar Gunung Arjuno dan Gunung Panderman, yang dulu didominasi oleh vegetasi lebat, telah diubah menjadi vila, taman rekreasi, dan lahan pertanian.
Ia mengatakan konversi lahan telah mengubah sistem air alami, memicu banjir di sebagian kota dataran tinggi Batu dan mempengaruhi satwa liar yang dulu berkembang biak di daerah itu, termasuk elang jawa, secara ilmiah dikenal sebagai Spizaetus bartelsi.
Sebagai seorang anak, Dwi sering mengingat melihat burung pemangsa itu berkeliling di atas desanya, sebuah pengalaman yang meninggalkan kesan mendalam. Kini, katanya, penampakan burung itu semakin langka.
“Dulu, saya sering melihat elang Jawa berkeliling di atas desa kami. Saya tidak perlu pergi jauh untuk melihatnya. Sekarang saya hampir tidak melihatnya lagi,” katanya.
Raptor Terancam
Kehilangan hutan di Jawa dan Bali telah menempatkan elang jawa endemik, yang terdaftar sebagai spesies yang terancam pada Daftar Merah IUCN, di bawah tekanan yang terus meningkat.