Salah satu temuan inti dari penelitian Assoc Prof Arief Liem adalah bahwa pendorong motivasi seperti kewajiban atau tanggung jawab relasional, yang sering disebut sebagai “terkendali” dalam teori Barat, dapat berfungsi secara adaptif dalam budaya saling bergantung.
“Temuan ini menantang asumsi yang berlaku dan menyoroti perlunya kerangka motivasi yang lebih inklusif secara budaya,” jelasnya.
Seorang profesor asosiasi di kelompok akademik Psikologi dan Perkembangan Anak & Manusia di National Institute of Education, Nanyang Technological University, Singapura (NIE NTU, Singapura), Assoc Prof Arief Liem berfokus pada motivasi dan keterlibatan siswa, serta pengaruh sosiokultural yang membentuk konsep diri siswa, agensi, dan pembelajaran.
“Saya meneliti bagaimana hubungan dengan orang tua, guru, dan teman sebaya berfungsi sebagai kekuatan motivasional yang memengaruhi ketekunan dan kesejahteraan siswa,” tambahnya.
Asal Bandung, Indonesia, jalur akademik Assoc Prof Arief Liem berakar dari rasa ingin tahu yang mendalam mengapa siswa belajar berbeda di berbagai setting budaya. Ketertarikannya pada penelitian muncul dari keinginan untuk menjembatani teori dan praktik dengan memahami bahwa siswa bukan hanya pelajar di kelas, melainkan individu yang dibentuk oleh dunia sosial dan budaya.
“Saya selalu tertarik mengapa siswa dari latar budaya yang berbeda mendekati pembelajaran secara berbeda,” ungkapnya. “Pengalaman mengajar dan penelitian saya di konteks Asia dan Barat telah menginspirasi saya untuk mengeksplorasi bagaimana budaya dan hubungan memengaruhi rasa diri siswa serta motivasi mereka untuk belajar.”
Refleksi ini sangat relevan dengan lanskap pendidikan Indonesia saat ini. Dengan inisiatif seperti Merdeka Belajar yang mendorong pembelajaran yang lebih berpusat pada siswa, pemahaman mengenai dasar budaya motivasi menjadi semakin penting bagi para guru, pemimpin sekolah, dan pembuat kebijakan.
Assoc Prof Arief Liem menekankan bahwa mengembangkan pemahaman motivasi siswa yang lebih berakar budaya membutuhkan melampaui sifat-sifat individu untuk memasukkan dimensi sosial dan relasional. Penelitiannya bertujuan memberi masukan bagi praktik pendidikan yang menumbuhkan keunggulan akademik serta keterkaitan sosial.
Di kelas-kelas yang saat ini globalisasi namun beragam, perspektif ini sangat penting. “Memahami bagaimana nilai-nilai budaya membentuk motivasi membantu para pendidik merancang lingkungan pembelajaran yang inklusif, mendukung, dan responsif terhadap siswa dari berbagai latar budaya,” ujarnya.
Salah satu tantangan yang ia antisipasi dalam perjalanan penelitiannya adalah menjembatani teori-teori yang dikembangkan dalam konteks Barat dengan realitas sekolah-sekolah Asia. Untuk mengatasi hal tersebut, ia melakukan analisis kuantitatif yang luas dan bekerja sama secara dekat dengan peneliti regional maupun internasional yang menawarkan perspektif kontekstual yang berharga.
Melalui pengalaman tersebut, Assoc Prof Arief Liem merasa paling puas ketika karyanya menjembatani teori dan praktik, ketika para guru dan pembuat kebijakan menemukan penelitian-penelitiannya bermanfaat untuk memahami siswa secara lebih holistik dan dalam membentuk lingkungan sekolah yang lebih peduli dan memotivasi.
Ketika ditanya apa yang mungkin akan dia lakukan secara berbeda jika bisa memulai lagi, dia merenung, “Saya akan melibatkan praktisi lebih awal dalam proses penelitian. Wawasan mereka sangat berharga untuk membentuk pertanyaan-pertanyaan yang paling relevan di lapangan dan untuk memastikan bahwa penelitian memberikan kontribusi yang berarti bagi peningkatan pendidikan.”
Bagi pendidik dan peneliti Indonesia yang mempertimbangkan Doctor of Philosophy (PhD) di NIE, Assoc Prof Arief Liem memberikan dua saran utama. Pertama, pilih topik yang benar-benar penting bagi Anda. PhD adalah perjalanan intelektual dan pribadi—yang menuntut rasa ingin tahu, ketekunan, dan hasrat yang tulus. Kedua, temukan pembimbing yang tepat. Cari seseorang yang tidak hanya memiliki rekam jejak penelitian yang kuat tetapi juga berkomitmen membimbing Anda dengan ketelitian intelektual dan kepedulian yang tulus.
Dia menambahkan, “NIE menawarkan lingkungan yang sangat baik untuk studi doktoral: komunitas akademik yang dinamis, pembimbing yang berdedikasi, dan penelitian yang secara mendalam terhubung dengan praktik dan kebijakan pendidikan. Bagi siapa pun yang masih ragu, saya akan mengatakan bahwa mengejar PhD di NIE bukan sekadar meraih gelar, melainkan bergabung dengan sebuah komunitas yang berkomitmen untuk memajukan pendidikan dan memberikan dampak nyata.”
Jika Anda berbagi minat Assoc Prof Gregory Arief D. Liem terhadap motivasi dan kesejahteraan siswa, NIE saat ini menerima aplikasi untuk program pascasarjana untuk gelombang Agustus 2026. Daftar sebelum 29 Desember 2025 https://ntu.sg/nieGradProgIntake.
Dengan lebih dari 30 program pascasarjana, National Institute of Education (NIE) adalah sebuah lembaga otonom di bawah Nanyang Technological University (NTU), Singapura. NTU peringkat di antara 12 universitas teratas di dunia dan tiga institusi pendidikan teratas di Asia dalam QS World University Rankings by Subject (Quacquarelli Symonds).
