Warna-warna itu familiar, baunya hampir nostalgik. Namun ada yang hilang. Pisang, mangga, dan nanas tidak berasal dari Indonesia melainkan dari Filipina dan Thailand.
Bagi Sastia, lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) di Jawa Barat yang pada saat itu telah menghabiskan tujuh tahun di Jepang, momen itu terasa biasa sekaligus mengguncang. Bagaimana mungkin sebuah negara yang terkenal dengan keanekaragaman hayati yang sangat besar bisa tidak terlihat di salah satu pasar makanan paling canggih di Asia?
“Kita sering membanggakan kekayaan alam Indonesia yang luar biasa, tetapi di luar negeri, atau setidaknya di Jepang, orang-orang tidak menyadarinya. Produk-produk kita tampak seperti pahlawan lokal yang belum bisa benar-benar menembus pasar domestik,” ujarnya.
Pemahaman tenang itu akan membentuk jalurnya sebagai peneliti ilmiah.
Sastia tidak memulai kariernya di bidang makanan. Ia tiba di Jepang pada tahun 2004 sebagai peserta magang UNESCO dan kemudian menyelesaikan gelar magister dan doktor atas beasiswa pemerintah Jepang. Pekerjaan awalnya berfokus pada rekayasa metabolik untuk energi terbarukan, sebuah bidang yang didorong oleh urgensi potensi krisis bahan bakar.
Sejak 2011, ia telah menghabiskan bertahun-tahun merancang mikroba untuk memproduksi biofuel sebagai bagian dari proyek penelitian bersama antara Jepang dan Amerika Serikat. Sepanjang perjalanan, ia mengembangkan keahlian mendalam dalam metabolomik, sebuah bidang yang sedang berkembang yang melibatkan pemetaan komprehensif metabolit dalam spesimen biologis, sebagaimana didefinisikan oleh National Institutes of Health (NIH) AS.