Pembatalan penerbangan dari Indonesia, baik untuk transit maupun tujuan akhir di Dubai, Abu Dhabi atau Doha, sebagian besar terjadi pada hari-hari awal konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Penumpang sering terkatung-katung, tidak mengetahui hingga satu atau dua hari sebelum keberangkatan apakah penerbangan mereka akan berangkat.
Pada 20 Maret, tepat satu hari menjelang Idul Fitri, bandara dipadati aktivitas. Meski konflik di Teluk berlangsung, Emirates berhasil mengangkut lima anggota Ikatan Wartawan Katolik Indonesia (ICJA) ke Bandara Leonardo da Vinci-Fiumicino di Roma. “Kami harus mengambil rute yang lebih panjang, terbang melewati Oman dan Chad untuk mencapai Eropa,” kata Jumar Sudiyana, seorang jurnalis dari Sonora Radio.
Sebelum penerbangan Emirates mereka, kelompok itu memegang tiket untuk Qatar Airways, yang hanya bisa menjamin perjalanan hingga Doha. “Penerbangan berikutnya yang tersedia ke Roma tidak sampai 30 Maret, dan bahkan saat itu, hanya jika situasinya kembali normal. Jadi, kami memilih untuk mengajukan pengembalian dana,” kata Asni Ovier Dengen Paluin, ketua ICJA. Kelompok itu bertekad mencapai Roma sebelum 25 Maret, tanggal yang ditetapkan untuk penandatanganan memorandum of understanding secara resmi agar bahasa Indonesia diterima oleh Vatican News, kantor berita resmi Takhta Suci.
“Visi besarnya adalah menciptakan sebuah platform di mana komunitas Katolik di seluruh dunia terhubung sepenuhnya, saling berbagi pengalaman hidup Gereja di mana pun mereka berada,” — Paolo Rufini, prefek Dicastery untuk Komunikasi
Dari Roma, Indonesia yang lebih dekat
Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo, yang lebih dikenal sebagai Mgr. Didik, Uskup Surabaya di Jawa Timur yang memimpin misi itu, memilih jalur yang berbeda. Bersama Romo Agung Nugroho dan penasihat ICJA Mayong Suryo Laksono, ia terbang melalui China Eastern. Perjalanan itu memakan waktu lebih dari 23 jam, jauh lebih lama daripada biasanya 18 jam, tetapi rutenya lebih aman karena melintasi Asia Timur daripada pusat ketegangan Teluk. Mereka tiba tepat waktu untuk hari H pada 25 Maret.