Di Jakarta, dampaknya sulit diabaikan. Kota ini menghasilkan sekitar 8.000 ton sampah setiap hari, sebagian besar berakhir di Bantar Gebang, Bekasi, membentuk tumpukan sampah yang sangat besar di tempat pembuangan akhir tersebut yang tidak hanya berbau busuk dan tidak sedap dipandang, tetapi juga berbahaya. Salah satu di antaranya baru-baru ini runtuh, menewaskan tujuh orang.
Kota-kota di seluruh dunia juga menghadapi tantangan serupa. Menanggapi hal tersebut, sebuah pameran di Erasmus Huis Jakarta mengajak pengunjung untuk memikirkan ulang sampah bukan sebagai sesuatu yang dibuang, tetapi sebagai material bernilai dengan kehidupan lain untuk dijalani.
Diselenggarakan oleh Dutch Design Foundation (DDF) dan didukung oleh Kedutaan Besar Belanda di Indonesia, pameran ini lahir dari sebuah upaya komunitas nyata dalam pengelolaan sampah.
“Setiap orang menghasilkan sampah,” kata Thorsten Roobeek, Sekretaris Pertama Urusan Ekonomi di Kedutaan Besar Belanda di Indonesia, saat pembukaan pada 5 Februari. “Dan kebanyakan orang melihat sampah sebagai sesuatu yang kotor dan tidak ingin melihatnya.”
“Banyak dari kita juga berpikir [sampah] adalah masalah orang lain,” tambahnya. “Dan itu adalah masalahnya.”